Emerald City

Emerald City
An Evening in Emerald City (source: personal document)

Minggu, 25 Januari 2015

Gagal Berjumpa Cleopatra


Sumber Ilustrasi: www.newyorker.com
Ini adalah kisah yang hampir tidak pernah kuceritakan pada orang lain. Kisah ini bermula saat aku baru saja lulus SMA (setingkat). Waktu itu masyarakat Indonesia masih dalam euforia film-film yang diadaptasi dari novel-novel laris, salah satunya Ayat-Ayat Cinta. Sebelum kulanjutkan bercerita, ada baiknya kita menyegarkan kembali ingatan tentang film yang disutradarai Hanung Bramantyo itu. Sekalian saja, anggaplah tulisan ini sebagai sebuah journey yang untuk bisa menikmatinya kau harus bisa merasakan vibe dan semangatku kala itu.

Pertama-tama, kau harus mendengarkan lagu yang selama berbulan-bulan menjadi hits di Tanah Air. Bila kau pernah menonton film Ayat-Ayat Cinta, tentu kau familiar dengan lagu yang dinyanyikan Rossa dan Sherina ini. Kuharap kau tak menolak. Dengarkan saja sejenak. Bila mau, kau juga bisa ikut bernyanyi. 

 
Bila kau sudah kembali ke masa-masa itu, mari simak kisahku.

Selasa, 30 Desember 2014

Tukang Pukul Kota Jakarta


Sumber Ilustrasi: http://makesmebelieveinnothing.blogspot.com
Jangan salah mengerti. Judul ini memang bercerita tentang tukang pukul, namun bukan seperti debt collector atau bodyguard yang biasa kita lihat di sinetron atau film.

Setiap hari, aku melewati jalan yang membelah Kuningan untuk menuju kantor tempatku bekerja. Dari Mampang, biasanya aku naik Kopaja P20 atau 620 dan turun di atas jembatan Casablanca. Katanya, terowongan yang tepat berada di bawah jembatan sempat menjadi inspirasi sebuah film horor Indonesia. Maklum, orang-orang mengatakan banyak hal aneh terjadi di tempat yang hanya berjarak sejengkal dengan TPU Menteng Pulo ini. Film berjudul Terowongan Casablanka yang disutradarai oleh Nanang Istiabudi dan dibintangi Asha Syara dan Ardina Rasti itu berdurasi sekitar 90 menit. Aku tidak suka film horor, jadi tak akan kuceritakan lebih lanjut. Dari jembatan, aku melanjutkan perjalanan ke kantor dengan angkot 44 dan berhenti tepat di depan Mal Kota Kasablanka (Kokas).

Suatu malam, jalanan dari arah Kokas menuju jembatan Casablanca disesaki oleh mobil dan motor. Padahal, biasanya rute ini tak pernah sepadat arah sebaliknya yang menuju Kampung Melayu. Aku pun memutuskan untuk berjalan kaki. Terakhir aku cek, jaraknya sekitar satu kilometer. Yah, lumayanlah untuk melemaskan kaki.

Rabu, 24 Desember 2014

Antara Cinta dan Dian Sastro


Sumber Ilustrasi: YouTube
Cinta. Betapa kata ini memiliki banyak makna. Ia hadir dalam hidup seseorang dengan caranya sendiri. Cukup sering ia muncul sambil mengendap-endap. Tak jarang pula ia datang tiba-tiba dan membuatmu sakit jantung. Makna cinta beragam tergantung jubah kebesaran yang ingin ia tunjukkan. Bagimu, cinta mungkin saja putih, dan bagi orang lain bisa saja merah. Tapi, bagiku Cinta adalah Dian Sastro! Yap, aku baru saja melihat kembali wajah jelita itu di YouTube gara-gara Line mengangkat Ada Apa Dengan Cinta (AADC) sebagai bagian strategi marketing-nya. “Ke mana aja lo? Telat dua bulan kali, baru nonton sekarang,” sergah seorang teman. 

Meskipun inspirasi tulisan ini adalah si cantik Dian Sastro yang telah merenggut masa kecilku (nanti akan kuceritakan soal yang satu ini), aku hanya ingin bercerita tentang cinta. Para ahli bahasa mendefinisikan cinta /cin·ta/ sebagai (1) suka sekali; sayang benar, (2) kasih sekali; terpikat (antara laki-laki dan perempuan), (3) ingin sekali; berharap sekali; rindu, dan (4) susah hati (khawatir); risau. Rasanya, pengertian keempat itulah yang justru lebih dominan dirasakan orang yang pintu rumahnya sedang diketuk cinta.

Minggu, 30 November 2014

Kebenaran Dua Sisi


(Sumber Ilustrasi: http://moudeomam.com)
Beberapa jam yang lalu aku berdebat dengan salah seorang teman. Gara-garanya, kami berbeda pendapat soal jalan yang paling benar dari Kemang menuju Mampang. Setahuku, ada jalan pintas yang paling cepat, yaitu dengan mengambil belokan sebelah kanan. Sementara itu, temanku yang bisa dibilang anak gaul Jakarta Selatan bersikukuh bahwa jalan yang kuanggap benar itu salah.

Perdebatan pun dimulai. Temanku membalik arah mobilnya menuju jalan yang aku tunjukkan. Sambil lalu, aku berusaha mencari history di aplikasi Waze yang sempat aku gunakan saat menyusuri jalan tersebut dulu. Aplikasi masih loading, temanku terus ngoceh mengatakan aku salah mengambil jalan.

Minggu, 23 November 2014

Sekilas Catatan PK 22 LPDP: Sedya, Sena, Sura


Credit Photo: Ramda Y.
Kesunyian pagi di hari Minggu, 16 November 2014 itu pecah dengan suara sekelompok orang yang berkumpul di halaman Wisma Hijau, Depok. Dengan pakaian formal, tas punggung agak besar, ransel, serta koper, mereka terlihat akrab bercakap-cakap sambil menanti pembukaan sebuah pelatihan. Tidak, mereka bukan anggota MLM. Mereka adalah para peserta Persiapan Keberangkatan (sebelumnya bernama Pelatihan Kepemimpinan/PK) yang menjadi penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Senyum dan suara cekikikan terdengar di sana-sini. Maklum, para peserta telah intens berkomunikasi lewat sosial media untuk mengerjakan tugas-tugas Pra-PK. Kebanyakan tidak tahu wajah satu sama lain kecuali melalui profile picture akun masing-masing. Saat bertemu, ada yang terkejut karena penampakan asli orang yang bersangkutan tak mirip seperti yang dibayangkan. Ada yang dikira perempuan, tapi ternyata seorang pria, haha.

Selasa, 11 Maret 2014

Kisah Pemuda Urban

Sumber Ilustrasi: http://mhau-photography.blogspot.com

Saat jam menunjukkan pukul 5:30 WIB, Sang Pemuda langsung berkemas untuk pulang kantor. Tak seperti biasanya, hari ini ia ingin pulang tepat waktu.

Sayangnya, Jumat sore memang tak pernah menjadi waktu pulang kerja yang mengenakkan. Kemacetan kota Jakarta relatif lebih parah menjelang akhir pekan, terutama di kawasan seperti Kuningan dan Mampang yang menjadi rute keseharian Sang Pemuda.

Sampai di depan gedung Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, bus yang ditumpangi Sang Pemuda benar-benar tak bisa bergerak. Antrian panjang mobil dan motor mengular tak karuan. Selain harus berdiri, Sang Pemuda harus berhimpitan dengan banyak orang yang penuh sesak memadati bus. Keringat mulai mengalir dari dahi, leher, dan ketiaknya. Gerah.

Untungnya, cahaya senja cukup indah memikat. Lukisan langit dengan matahari yang akan tenggelam bagi Sang Pemuda selalu memiliki aura magis. Bagai magnet, nuansa sore itu menarik pandangan Sang Pemuda hingga membuat matanya tak berkedip. Sebuah momen yang terlalu berharga untuk dilewatkan.

Jumat, 26 April 2013

Bertualang Di Tanah Pangandaran



Menuju Pangandaran, 29 Maret 2013

Saat menulis ini aku sedang berada di atas bus Gapuraning Rahayu menuju Pangandaran. Weekend yang diawali dengan tanggal merah Jum'at Agung menjadi waktu yang tepat untukku berjalan-jalan. Beberapa minggu ini pikiranku memang suntuk tak karuan. Selain soal kerjaan yang selalu "ada-ada aja", pikiranku juga kalut menyelesaikan esai beasiswa yang sedang kukejar.

Terminal Kampung Rambutan
Sambil aku menulis, suara sendu penyanyi cantik Nike Ardila mengalun di dalam bus. "Hanya iman di dada, yang buatku mampu, selalu tabah menghadapi...." Ini adalah lagu ketiga. Belum menginjakkan kaki di tanah Pajajaran, aku sudah dikepung perasaan nostalgia melalui nada-nada awewek asli Bandung ini. Sangat Jawa Barat! Meski telah lama pergi, suara Nike telah melemparkanku kembali pada masa kecil saat aku duduk di teras rumah sambil mendengarkan lagu-lagunya melalui radio tape pamanku.

Menanti Bus Gapuraning Rahayu
Sebelumnya aku belum pernah menyambangi Pangandaran. Saat aku tanya pada kenek bus jam berapa kira-kira sampai, Ia menjawab, "wah, tidak tau ya mas. Soalnya lagi libur, mungkin bakal macet." Aku pun tidak masalah, toh ini liburan. Jam berapa pun sampai Pangandaran, aku nikmati saja.

Sebelum pergi tadi sore, aku menyempatkan diri untuk melihat-lihat Pangandaran melalui Internet. Sangat indah ternyata. Pangandaran juga disebut-sebut sebagai Bali-nya Jawa Barat. Satu destinasi yang populer adalah Green Canyon. Meski namanya mirip dengan Grand Canyon di Arizona yang pernah aku singgahi dulu, yang ini katanya benar-benar "green" dengan sungai yang mengalir di bawah tebing penuh pepohonan. Aku pun penasaran. Semoga Ai, temanku yang akan menemani akhir pekanku di Pangandaran, dapat mengantarku besok ke sana.

Mengejar Sunrise Pantai Pangandaran

Jam 04.05 WIB, aku sampai di pool Gapuraning Rahayu. Kepalaku pening sementara perutku seakan diaduk-aduk. Baru saja aku SMS Ai mengabarkan bahwa aku telah sampai, namun aku yakin Ia takkan datang sepagi ini. Tiba-tiba saja teleponku berdering, ada SMS masuk. Si Ai ternyata. Entah temanku yang gondrong ini tidak tidur atau memang telah bangun sepagi ini untuk tahajud. Ah, yang penting jemputanku akan segera tiba. Urat kepalaku sudah kusut terlalu lama terbentur sandaran kursi dan jendela bus.

Selepas shalat Shubuh di pool, Ai datang sambil celingukan mencari diriku. Aku melambai dan Ia datang menghampiri. Di tangannya Ia memegang bungkusan plastik yang berisi gorengan. Nikmat, pagi yang dingin ditemani setumpuk gorengan yang masih hangat. Aku pun mengeluarkan bungkusan donat yang kubeli di atas bus.

Selasa, 06 November 2012

Stasiun Pasar Senen

Stasiun Pasar Senen, adalah salah satu stasiun tua yang menjadi saksi dan pintu urbanisasi kota Jakarta. Di stasiun ini banyak kisah menarik yang tersaji. Bukan dari tutur kepala stasiun atau para masinis, namun dari wajah-wajah lelah dan deraian keringat para penumpang. Pun, kita dapat temui paras-paras sumringah dengan ribuan asa yang terselip dalam setiap senyuman. Disinilah babak kehidupan menemukan jalan...

Statuta
Pintu Masuk. Disinilah biasanya calo menjaring pelanggan

Senin, 22 Oktober 2012

KEBAHAGIAAN ITU DEKAT!

"Don't judge a book by its cover" sepertinya berlaku dalam hal ini. Kadang kita salah sangka, salah tafsir, salah paham, salah alamat, atau salah tangkap!


Keep Spirit Pak!
Seperti biasa, hari minggu kemarin aku berangkat dari tempat kost menuju Stasiun Gambir, tempat aku melakukan aktivitas volunteer. Sebelum jarum jam menunjuk angka tiga sore, aku mampir sejenak ke area parkir Stasiun Gambir yang terletak di belakangnya. Selain berfungsi sebagai tempat parkir, area belakang tersebut juga merupakan shelter bagi moda transportasi umum lain seperti taksi, bajaj, dan bus Damri yang khusus melayani rute bandara Soekarno-Hatta. Di tempat ini pula terdapat sebuah masjid yang menjadi pusat aktivitas ibadah umat muslim di sekitar.
Aku menanggalkan sandal untuk mencuci muka yang kusam setelah hampir empat puluh menit perjalanan diatas bus Kopaja P20. Kadang aku gregetan dengan aksi para supir angkutan ini. Ketika jalanan lengang, mereka biasanya berleha-leha dan memacu bus sekenanya saja. Tidak peduli dengan para penumpang yang gerah tersengat panas matahari Jakarta. Sekejap kemudian, mereka akan mengebut kesetanan saat melihat ada bus Kopaja P20 lain di belakang. Jalanan macet tidak lagi diperhatikan. Salip kanan, salip kiri, supir-supir itu tak lagi peduli dengan para penumpang. Di jejeran kursi belakang, tidak jarang pantat para penumpang terangkat dari kursi saat bus terganjal atau mengerem dengan tiba-tiba. Sudahlah, sepertinya tak ada lagi yang dapat dilakukan dengan. Lebih baik (dan sehat secara mental) untuk menganggap perjalanan ini sebagai rekreasi di Dufan, dengan tarif lebih murah tentunya.

Sabtu, 29 September 2012

Mintalah Sewajarnya


Terkadang kita merasa hidup berlaku tidak adil. Disaat kita merasa telah berusaha sekuat tenaga, hasil yang kita dapat tak sesuai harapan. Kadang kita mengeluh betapa hidup ini begitu berat tuk dijalani. Mungkin ada yang berpikir akan lebih baik jika hidupnya diakhiri. Benarkah seberat itu dunia ini tuk dijalani? Sekejam itukah nasib mempermainkan hidup seseorang?

Aku bertemu nenek ini secara tak sengaja. Hari Minggu itu ia lewat begitu saja di depanku yang sedang duduk santai bercengkerama dengan adik binaan. Tidak seperti orang pada umumnya, sang nenek berjalan sangat lambat seakan dunia disekitarnya terserap dalam sebuah slow-motion  film The Matrix. Tidak pernah sebelumnya aku menemukan seseorang berjalan selambat nenek itu.  
Maafin aku ya nek....

Seakan ada beban yang begitu berat harus dipikulnya tiap kali melangkah, satu per satu kakinya bergerak perlahan. Tak ia biarkan kaki di belakang bergerak sebelum ia yakin kaki yang di depan telah menapak mantap menahan tubuh ringkihnya. Dua kemungkinan, pikirku. Jika bukan beban yang ia gendong terlalu berat, maka tubuh rentanya yang begitu lemah untuk diajak bepergian. 

Sambil terus memperhatikan sang nenek yang keluar dari arah pemukiman warga, aku masih terus berbincang dengan adik di sampingku. Nampaknya ia tahu aku tertarik dengan kemunculan si nenek. Adik itu justru acuh tak acuh seakan hal itu menjadi pandangan yang ia lihat sehari-hari. Memang saat itu aku berada di lingkungan Jakarta yang tidak segemerlap tayangan sinetron atau sampul majalah turisme Kementerian Pariwisata. Ketika itu aku berada di lingkungan marginal ibukota. 

Pikiranku mulai melayang kemana-mana. Mungkinkah ia tinggal sebatang kara? Apakah suami yang mungkin berusia lebih tua darinya telah meninggal dunia dan meninggalkannya seorang diri? Apakah ia tidak punya sanak saudara? Anak misalnya? Pun jika ada, apakah anak-anaknya saling lempar tanggung jawab untuk mengurusnya? Mungkinkah karena tidak ingin merepotkan nenek memilih hidup sendiri? Apakah bungkusan di punggungnya adalah jamu racikan atau gorengan pisang yang menjadi menumpukan hidup? Ah, aku tidak tahu.

Hampir lima menit berlalu, belum satu meter pun nenek itu lalui. Kau mungkin bertanya-tanya apa yang kemudian kulakukan. Apakah aku hanya memperhatikan saja tanpa berusaha melakukan sesuatu? Bukankah lebih baik membantu daripada sekedar melihatnya dari ujung mata? Apalagi jika sempat-sempatnya aku mengambil foto dan malah tidak memapahnya. Jika kau pembaca yang berpikiran positif, mungkin kau menyangka tentu saja aku tergerak membantu. Bila kau pembaca yang kritis, kau mungkin tidak percaya begitu saja dan masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya kulakukan? 

Senin, 26 Juli 2010

Kemacetan yang Inspiratif


Bagi sebagian orang, kuliah pada hari Jum’at sore adalah kutukan, apalagi jika tempat kuliah itu berada di wilayah pusat kemacetan kota Jakarta. “Kutukan” itulah yang sedang aku jalani sekarang. Pada semester pendek ini aku mengambil mata kuliah anti korupsi. Sebuah mata kuliah aneh yang menjadi mata kuliah wajib bagi mahasiswa Universitas Paramadina.

Sebenarnya hal ini tidak akan terjadi seandainya aku tidak telat mengisi Kartu Rencana Studi (KRS) untuk semester pendek ini. Namun apalah daya, ketika aku akan mengisi, hanya tersisa satu kelas mata kuliah anti korupsi yang masih bisa diisi. Itupun dari sekian puluh mahasiswa yang dapat ditampung, hanya tersisa satu kursi. Akhirnya tanpa pikir lagi aku meng-click kelas tersebut.

Sementara lupakan dulu soal pengisian KRS yang banyak memakan korban (masalah kuceritakan nanti). Seluruh mata kuliah anti korupsi berlokasi di kampus II Universitas Paramadina, Energy Tower lantai 22, kawasan bisnis SCBD. Lokasinya cukup strategis karena ia diapit oleh jalan Sudirman, Senayan, dan Pacific Place. Sebagai sentra bisnis, bisa dibayangkan betapa sibuknya jalan-jalan ini oleh lalu lalang kendaraan. Apalagi jika hari akhir kerja menjelang weekend.

Banyak teman-temanku berkata bahwa kuliah sore, di kampus II, hari jum’at, adalah neraka. FYI, kuliah anti korupsi adalah kuliah 2 SKS yang dimulai dari jam 15.30 dan berakhir pada jam 17.10 WIB. Namun tidak jarang waktu kuliah melampaui batas waktu yang biasanya. Terkadang lebih sepuluh menit, atau bahkan lima belas menit. Kemacetan luar biasa selalu membayangi kawasan ini, apalagi pada jam-jam itu. Tidak hanya kendaraan, antrian panjang para penumpang juga ikut menyumbang kegelisahan hari Jum’at di SCBD. Menyangkut terminologi SCBD, ternyata banyak juga teman-temanku yang tidak tahu kepanjangannya. SCBD adalah singkatan dari Sudirman Central Business District. Itulah yang kuketahui melalui google. Hehehe…, akupun tidak tahu.


Namun belakangan aku menyadari bahwa kuliah hari Jum’at sore di kawasan SCBD tidaklah terlalu mengerikan, meskipun harus kuakui bahwa untuk pulang menuju Mampang Prapatan aku harus menghabiskan waktu hampir 2 jam di jalan, bahkan lebih. Meskipun hari ini Kompas merilis data bahwa dari total waktu perjalanan di Jakarta hanya 40% yang dapat digunakan bergerak, akhir-akhir ini aku berusaha untuk menjadikannya rekreasi model baru. Dengan sedikit mengubah perspektif, aku banyak belajar dalam perjalananku dari SCBD menuju Mampang.

Pagi hari ketika akan berangkat ke kantor ataupun memulai aktivitas, setiap orang akan berdandan dengan rapi dan mungkin menghabiskan waktu cukup lama mematut-matutkan diri di depan kaca. Mencari baju yang sesuai, matching sana-sini, menyisir rambut, menyemir sepatu, menyetrika baju, sampai memilih wangi parfum yang sesuai dengan suasana hati. Bahkan orang (sorry to say) paling jelek sekalipun akan menjadi cantik dan ganteng dalam balutan make-up dan riasan tubuh.

Namun setelah beraktvitas kurang lebih delapan jam dalam sehari dan lima hari dalam seminggu, apakah manusia-manusia pekerja ini masih dalam kondisi yang sama? Apakah mereka masih fresh seperti saat pertama berangkat? Apakah riasan dan make-up masih menor seperti sebelumnya? Apakah tatanan rambut masih berdiri stylish? Itulah realitas yang berusaha aku temukan jawabannya dalam ruwetnya kemacetan kota Jakarta menjelang akhir pekan!

Untuk menuju Mampang, ada beberapa alternatif pilihan transportasi yang dapat digunakan. Pertama, bus transjakarta. Dari kampus II Paramadina, aku hanya tinggal masuk ke halte busway Gelora Bung Karno yang berada tidak jauh dari sana. Namun karena rute busway yang berputar-putar, maka resiko menggunakan busway pada jam-jam pulang kantor dan di hari Jum’at adalah antriannya yang super-duper panjang!

Kedua, adalah terus melanjutkan perjalanan ke terminal Blok M lalu menyambungnya dengan bus metro mini 75 ataupun Kopaja 57. Dua bus kota ini akan melalui jalan Senopati yang hingga kawasan Tendean juga dijubeli dengan berbagai kendaraan roda empat ataupun dua. Alternatif terakhir, menyeberang melalui jembatan busway dan naik bus Kopaja 66 dari arah seberang Graha Energy (Graha Niaga). Namun bus ini hanya akan mengantar hingga perempatan Kuningan, sehingga untuk menuju Mampang harus jalan kaki sebentar hingga ke depan Trans TV/ Pasar Mampang dan menyambungnya dengan angkot 42, Kopaja 57, atau metro mini 75 yang datang dari arah Blok M.

Bagi orang-orang yang tidak punya kendaraan sendiri, sebenarnya ada alternatif lain yang mungkin digunakan, yaitu taxi. Namun dengan kemacetan yang parah, aku kira sedikit dari kita yang akan menggunakan alternatif ini.

Jika bus transjakarta yang dipilih, maka aku harus transit dulu di halte busway Dukuh Atas. Disinilah puncak pertemuan dari berbagai jalur busway, terutama jalur koridor satu yang menghubungkan stasiun Kota Jakarta dengan terminal Blok M. Antrian panjang manusia akan menjadi pemandangan yang biasa. Disini kau akan melihat banyak realita unik mengenai orang-orang dan perilakunya, terutama ketika sedang mengantri dan berusaha mengatasi stress akibat macet.

Dalam perjalanan pulang dengan menggunakan busway, kau akan melihat banyak fakta. Disini kau akan melihat bagaimana make-up tidak lagi menjadi utama. Rambut shaggy yang cool akan terlihat lemas dan lepek. Garis-garis tegas kemeja yang disetrika telah kehilangan lekukan-lekukan indahnya. Pada kondisi inilah kau akan melihat manusia-manusia yang apa adanya. Pun disinilah jika kau ingin melihat kecantikan alami seorang wanita.

Ya, tentu saja. Cantik bukan dalam arti visual saja, namun inner beauty pun akan teruji disana. Kau akan lihat bagaimana seseorang yang punya kepribadian baik akan terus tersenyum kepada orang lain meskipun ia lelah bekerja seharian. Wajahnya masih memancarkan cahaya optimisme dan selalu melihat sisi positif dari sesuatu. Dilain sisi, tidak akan sulit bagimu untuk menemukan orang-orang dengan wajah cemberut dan alis yang selalu bertaut. Melirik orang lain dengan sinis dan berusaha eksklusif dalam kemacetan dan antrian.

Begitu pula dengan alternatif pilihan transportasi lain. Setiap medan punya tantangan dan fakta yang menarik. Tidak hanya soal antrian, perilaku pengendara roda dua juga akan menjadi media rekreasi yang memikat. Sejuta wajah Jakarta dapat kau temui pada sebuah petang di hari Jum’at.

Jakarta, 26 Juli 2010

(sumber gambar: foto.detik.com)

Popular