Banyak pepatah mengatakan bahwa teman sangat berpengaruh pada kehidupan seseorang. Pada awalnya, aku tidak terlalu percaya dengan hal tersebut karena sejauh ini aku tidak merasakan hal tersebut. Pertemanan dan persahabatan yang aku jalani mengalir bagaikan air sungai yang tenang. Tidak ada yang mendominasi ataupun didominasi. Semuanya berjalan lancar tanpa ada masalah.
Namun seiring berjalannya waktu, tingkat kematangan dan kedewasaan antara satu orang dengan lainnya berbeda. Perubahan tingkat pendidikan, pengalaman, akses informasi, dan faktor-faktor demografis lainnya menimbulkan pandangan dan sikap yang berbeda dalam memandang sebuah masalah.
Ternyata, pengaruh seorang teman dan sahabat pada diri kita tidak sekedar pola hubungan yang mendominasi-didominasi, namun lebih dari itu, mereka yang berada disekitar menjadi sumber referensi bagi kita dalam bertindak ataupun menyikapi sebuah masalah. Inilah alasan mengapa seorang teman dan sahabat menjadi penting bagi kita.
Disadari ataupun tidak, pembawaan dan sikap kita cukup besar terpangaruh dari referensi yang kita tangkap dari teman dan sahabat. Apalagi jika kita terjebak pada situasi yang kritis dan membutuhkan pemecahan yang sebelumnya belum pernah kita alami. Dalam keadaan seperti ini, tingkah sahabat dan orang-orang terdekat kita secara otomatis akan menjadi pinjakan dan contoh.
Dengan demikian, karakter dan sikap teman/ sahabat yang kita pilih akan menjadi salah satu faktor pendukung proses character building dalam diri. Ketika kita berteman dan berkumpul dengan orang-orang yang temperamental dalam menghadapi masalah, maka sangat mungkin kita juga akan melakukan pendekatan yang sama dalam menyelesaikan sebuah masalah, bahkan ketika kita sendirian.
Begitu juga ketika kita berteman dengan orang-orang yang senang berbuat baik dan berpikiran positif terhadap segala sesuatu. Pertemanan dengan orang-orang yang seperti itu akan membuat kita juga akan lebih sabar dan positif dalam menghadapi permasalahan yang ada. Oleh karena itu, meskipun jangan sampai pilih-pilih dalam berteman dan bersahabat, carilah teman yang memberikan dampak yang positif dan baik bagi pembangunan mental dan kepribadian kita.
Emerald City
An Evening in Emerald City (source: personal document)
Senin, 18 Januari 2010
Kamis, 31 Desember 2009
Ilmu dan Internet
Memasuki tahun kedua kuliah, tugas-tugas makin menumpuk, bahkan menjelang detik-detik akhir tahun 2009. Setiap dosen mata kuliah memberikan tugas paper untuk diserahkan ketika UAS. Tidak hanya aku, bahkan seluruh teman-temanku ikut kelimpungan mencari data dan membuat paper.
Ada hal unik yang baru aku sadari pada saat aku mulai menjelajah internet untuk mencari data-data yang aku perlukan. Dari beberapa tab yang aku buka, ternyata ada beberapa tulisan yang memiliki isi yang mirip. Sebelumnya aku tidak menyadari hal tersebut hingga kemiripan yang aku temui semakin banyak.
Biasanya, ketika akan mencari data, wabsite pertama yang dibuka adalah wikipedia, ensiklopedia bebas. Data-data mengenai sejarah, asal kata, ataupun hal-hal yang agak bersifat ilmiah mudah ditemui di website ini. Maka, tidak sulit untuk menemukan teman-teman menggunakan sumber yang diambil dari wikipedia untuk memulai tulisannya.
Langkah selanjutnya, website-website yang lain akan dibuka untuk menambah referensi dan bahan tulisan. Tidak jarang mahasiswa yang lebih memposisikan dirinya sebagai penyusun daripada pengarang. Disebut demikian karena untuk melengkapi paper yang dibuat, cukup dengan mengambil beberapa potongan paragraf dari makalah-makalah yang berbeda dan menggabungkannya sehingga menjadi sebuah kesatuan yang cukup enak dibaca.
Tentu hal ini tidak dapat dianggap plagiarisme karena sumber tulisannya juga dicantumkan. Namun hal yang meresahkan adalah ketika hal ini berlanjut terus menerus, maka tidak lama kemudian kita akan mendapatkan seluruh isi blog ataupun website diupload dengan jenis tulisan yang mirip-mirip. Jika sudah demikian, bagaimana ilmu pengetahuan akan berkembang?
Kemudahan yang diberikan oleh adanya teknologi internet jelas tidak terbatas. Akses menjadi borderless karena tidak lagi terbentur jarak dan waktu. Namun hal yang banyak kita lupakan adalah dengan mendapatkan kemudahan, terkadang kita lupa untuk berusaha lebih keras. Akan berbeda hasilnya jika kita mengambil sumber dari buku ataupun jurnal-jurnal tertulis daripada dengan meng-copy dari internet. Seharusnya kita mampu menggunakan kemudahan yang diberikan internet dengan lebih baik lagi. Bagaimana caranya? Mari kita pikirkan bersama.
Ada hal unik yang baru aku sadari pada saat aku mulai menjelajah internet untuk mencari data-data yang aku perlukan. Dari beberapa tab yang aku buka, ternyata ada beberapa tulisan yang memiliki isi yang mirip. Sebelumnya aku tidak menyadari hal tersebut hingga kemiripan yang aku temui semakin banyak.
Biasanya, ketika akan mencari data, wabsite pertama yang dibuka adalah wikipedia, ensiklopedia bebas. Data-data mengenai sejarah, asal kata, ataupun hal-hal yang agak bersifat ilmiah mudah ditemui di website ini. Maka, tidak sulit untuk menemukan teman-teman menggunakan sumber yang diambil dari wikipedia untuk memulai tulisannya.
Langkah selanjutnya, website-website yang lain akan dibuka untuk menambah referensi dan bahan tulisan. Tidak jarang mahasiswa yang lebih memposisikan dirinya sebagai penyusun daripada pengarang. Disebut demikian karena untuk melengkapi paper yang dibuat, cukup dengan mengambil beberapa potongan paragraf dari makalah-makalah yang berbeda dan menggabungkannya sehingga menjadi sebuah kesatuan yang cukup enak dibaca.
Tentu hal ini tidak dapat dianggap plagiarisme karena sumber tulisannya juga dicantumkan. Namun hal yang meresahkan adalah ketika hal ini berlanjut terus menerus, maka tidak lama kemudian kita akan mendapatkan seluruh isi blog ataupun website diupload dengan jenis tulisan yang mirip-mirip. Jika sudah demikian, bagaimana ilmu pengetahuan akan berkembang?
Kemudahan yang diberikan oleh adanya teknologi internet jelas tidak terbatas. Akses menjadi borderless karena tidak lagi terbentur jarak dan waktu. Namun hal yang banyak kita lupakan adalah dengan mendapatkan kemudahan, terkadang kita lupa untuk berusaha lebih keras. Akan berbeda hasilnya jika kita mengambil sumber dari buku ataupun jurnal-jurnal tertulis daripada dengan meng-copy dari internet. Seharusnya kita mampu menggunakan kemudahan yang diberikan internet dengan lebih baik lagi. Bagaimana caranya? Mari kita pikirkan bersama.
Langganan:
Postingan (Atom)
Popular
-
Stasiun Pasar Senen, adalah salah satu stasiun tua yang menjadi saksi dan pintu urbanisasi kota Jakarta. Di stasiun ini banyak kisah menari...
-
Lebay, adalah sebuah kata yang sering kita dengar dimana-mana. Tidak hanya diucapkan, kata ini juga sering ditulis dalam berbagai komentar d...
-
Pemandangan Kota Seattle (Sumber: Dokumentasi Pribadi) Sejak tadi sore aku mencoba melengkapi aplikasi pengajuan visa Amerika ...
-
Menuju Pangandaran, 29 Maret 2013 Saat menulis ini aku sedang berada di atas bus Gapuraning Rahayu menuju Pangandaran. Weekend yang d...
-
Mengakarnya budaya ber-FB-an di masyarakat sering dikaitkan dengan istilah narsisme. Ketika seseorang sering mengabadikan gambar dirinya d...