Emerald City

Emerald City
An Evening in Emerald City (source: personal document)

Minggu, 30 November 2014

Kebenaran Dua Sisi


(Sumber Ilustrasi: http://moudeomam.com)
Beberapa jam yang lalu aku berdebat dengan salah seorang teman. Gara-garanya, kami berbeda pendapat soal jalan yang paling benar dari Kemang menuju Mampang. Setahuku, ada jalan pintas yang paling cepat, yaitu dengan mengambil belokan sebelah kanan. Sementara itu, temanku yang bisa dibilang anak gaul Jakarta Selatan bersikukuh bahwa jalan yang kuanggap benar itu salah.

Perdebatan pun dimulai. Temanku membalik arah mobilnya menuju jalan yang aku tunjukkan. Sambil lalu, aku berusaha mencari history di aplikasi Waze yang sempat aku gunakan saat menyusuri jalan tersebut dulu. Aplikasi masih loading, temanku terus ngoceh mengatakan aku salah mengambil jalan.

Minggu, 23 November 2014

Sekilas Catatan PK 22 LPDP: Sedya, Sena, Sura


Credit Photo: Ramda Y.
Kesunyian pagi di hari Minggu, 16 November 2014 itu pecah dengan suara sekelompok orang yang berkumpul di halaman Wisma Hijau, Depok. Dengan pakaian formal, tas punggung agak besar, ransel, serta koper, mereka terlihat akrab bercakap-cakap sambil menanti pembukaan sebuah pelatihan. Tidak, mereka bukan anggota MLM. Mereka adalah para peserta Persiapan Keberangkatan (sebelumnya bernama Pelatihan Kepemimpinan/PK) yang menjadi penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Senyum dan suara cekikikan terdengar di sana-sini. Maklum, para peserta telah intens berkomunikasi lewat sosial media untuk mengerjakan tugas-tugas Pra-PK. Kebanyakan tidak tahu wajah satu sama lain kecuali melalui profile picture akun masing-masing. Saat bertemu, ada yang terkejut karena penampakan asli orang yang bersangkutan tak mirip seperti yang dibayangkan. Ada yang dikira perempuan, tapi ternyata seorang pria, haha.

Selasa, 11 Maret 2014

Kisah Pemuda Urban

Sumber Ilustrasi: http://mhau-photography.blogspot.com

Saat jam menunjukkan pukul 5:30 WIB, Sang Pemuda langsung berkemas untuk pulang kantor. Tak seperti biasanya, hari ini ia ingin pulang tepat waktu.

Sayangnya, Jumat sore memang tak pernah menjadi waktu pulang kerja yang mengenakkan. Kemacetan kota Jakarta relatif lebih parah menjelang akhir pekan, terutama di kawasan seperti Kuningan dan Mampang yang menjadi rute keseharian Sang Pemuda.

Sampai di depan gedung Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, bus yang ditumpangi Sang Pemuda benar-benar tak bisa bergerak. Antrian panjang mobil dan motor mengular tak karuan. Selain harus berdiri, Sang Pemuda harus berhimpitan dengan banyak orang yang penuh sesak memadati bus. Keringat mulai mengalir dari dahi, leher, dan ketiaknya. Gerah.

Untungnya, cahaya senja cukup indah memikat. Lukisan langit dengan matahari yang akan tenggelam bagi Sang Pemuda selalu memiliki aura magis. Bagai magnet, nuansa sore itu menarik pandangan Sang Pemuda hingga membuat matanya tak berkedip. Sebuah momen yang terlalu berharga untuk dilewatkan.

Jumat, 26 April 2013

Bertualang Di Tanah Pangandaran



Menuju Pangandaran, 29 Maret 2013

Saat menulis ini aku sedang berada di atas bus Gapuraning Rahayu menuju Pangandaran. Weekend yang diawali dengan tanggal merah Jum'at Agung menjadi waktu yang tepat untukku berjalan-jalan. Beberapa minggu ini pikiranku memang suntuk tak karuan. Selain soal kerjaan yang selalu "ada-ada aja", pikiranku juga kalut menyelesaikan esai beasiswa yang sedang kukejar.

Terminal Kampung Rambutan
Sambil aku menulis, suara sendu penyanyi cantik Nike Ardila mengalun di dalam bus. "Hanya iman di dada, yang buatku mampu, selalu tabah menghadapi...." Ini adalah lagu ketiga. Belum menginjakkan kaki di tanah Pajajaran, aku sudah dikepung perasaan nostalgia melalui nada-nada awewek asli Bandung ini. Sangat Jawa Barat! Meski telah lama pergi, suara Nike telah melemparkanku kembali pada masa kecil saat aku duduk di teras rumah sambil mendengarkan lagu-lagunya melalui radio tape pamanku.

Menanti Bus Gapuraning Rahayu
Sebelumnya aku belum pernah menyambangi Pangandaran. Saat aku tanya pada kenek bus jam berapa kira-kira sampai, Ia menjawab, "wah, tidak tau ya mas. Soalnya lagi libur, mungkin bakal macet." Aku pun tidak masalah, toh ini liburan. Jam berapa pun sampai Pangandaran, aku nikmati saja.

Sebelum pergi tadi sore, aku menyempatkan diri untuk melihat-lihat Pangandaran melalui Internet. Sangat indah ternyata. Pangandaran juga disebut-sebut sebagai Bali-nya Jawa Barat. Satu destinasi yang populer adalah Green Canyon. Meski namanya mirip dengan Grand Canyon di Arizona yang pernah aku singgahi dulu, yang ini katanya benar-benar "green" dengan sungai yang mengalir di bawah tebing penuh pepohonan. Aku pun penasaran. Semoga Ai, temanku yang akan menemani akhir pekanku di Pangandaran, dapat mengantarku besok ke sana.

Mengejar Sunrise Pantai Pangandaran

Jam 04.05 WIB, aku sampai di pool Gapuraning Rahayu. Kepalaku pening sementara perutku seakan diaduk-aduk. Baru saja aku SMS Ai mengabarkan bahwa aku telah sampai, namun aku yakin Ia takkan datang sepagi ini. Tiba-tiba saja teleponku berdering, ada SMS masuk. Si Ai ternyata. Entah temanku yang gondrong ini tidak tidur atau memang telah bangun sepagi ini untuk tahajud. Ah, yang penting jemputanku akan segera tiba. Urat kepalaku sudah kusut terlalu lama terbentur sandaran kursi dan jendela bus.

Selepas shalat Shubuh di pool, Ai datang sambil celingukan mencari diriku. Aku melambai dan Ia datang menghampiri. Di tangannya Ia memegang bungkusan plastik yang berisi gorengan. Nikmat, pagi yang dingin ditemani setumpuk gorengan yang masih hangat. Aku pun mengeluarkan bungkusan donat yang kubeli di atas bus.

Selasa, 06 November 2012

Stasiun Pasar Senen

Stasiun Pasar Senen, adalah salah satu stasiun tua yang menjadi saksi dan pintu urbanisasi kota Jakarta. Di stasiun ini banyak kisah menarik yang tersaji. Bukan dari tutur kepala stasiun atau para masinis, namun dari wajah-wajah lelah dan deraian keringat para penumpang. Pun, kita dapat temui paras-paras sumringah dengan ribuan asa yang terselip dalam setiap senyuman. Disinilah babak kehidupan menemukan jalan...

Statuta
Pintu Masuk. Disinilah biasanya calo menjaring pelanggan

Senin, 22 Oktober 2012

KEBAHAGIAAN ITU DEKAT!

"Don't judge a book by its cover" sepertinya berlaku dalam hal ini. Kadang kita salah sangka, salah tafsir, salah paham, salah alamat, atau salah tangkap!


Keep Spirit Pak!
Seperti biasa, hari minggu kemarin aku berangkat dari tempat kost menuju Stasiun Gambir, tempat aku melakukan aktivitas volunteer. Sebelum jarum jam menunjuk angka tiga sore, aku mampir sejenak ke area parkir Stasiun Gambir yang terletak di belakangnya. Selain berfungsi sebagai tempat parkir, area belakang tersebut juga merupakan shelter bagi moda transportasi umum lain seperti taksi, bajaj, dan bus Damri yang khusus melayani rute bandara Soekarno-Hatta. Di tempat ini pula terdapat sebuah masjid yang menjadi pusat aktivitas ibadah umat muslim di sekitar.
Aku menanggalkan sandal untuk mencuci muka yang kusam setelah hampir empat puluh menit perjalanan diatas bus Kopaja P20. Kadang aku gregetan dengan aksi para supir angkutan ini. Ketika jalanan lengang, mereka biasanya berleha-leha dan memacu bus sekenanya saja. Tidak peduli dengan para penumpang yang gerah tersengat panas matahari Jakarta. Sekejap kemudian, mereka akan mengebut kesetanan saat melihat ada bus Kopaja P20 lain di belakang. Jalanan macet tidak lagi diperhatikan. Salip kanan, salip kiri, supir-supir itu tak lagi peduli dengan para penumpang. Di jejeran kursi belakang, tidak jarang pantat para penumpang terangkat dari kursi saat bus terganjal atau mengerem dengan tiba-tiba. Sudahlah, sepertinya tak ada lagi yang dapat dilakukan dengan. Lebih baik (dan sehat secara mental) untuk menganggap perjalanan ini sebagai rekreasi di Dufan, dengan tarif lebih murah tentunya.

Sabtu, 29 September 2012

Mintalah Sewajarnya


Terkadang kita merasa hidup berlaku tidak adil. Disaat kita merasa telah berusaha sekuat tenaga, hasil yang kita dapat tak sesuai harapan. Kadang kita mengeluh betapa hidup ini begitu berat tuk dijalani. Mungkin ada yang berpikir akan lebih baik jika hidupnya diakhiri. Benarkah seberat itu dunia ini tuk dijalani? Sekejam itukah nasib mempermainkan hidup seseorang?

Aku bertemu nenek ini secara tak sengaja. Hari Minggu itu ia lewat begitu saja di depanku yang sedang duduk santai bercengkerama dengan adik binaan. Tidak seperti orang pada umumnya, sang nenek berjalan sangat lambat seakan dunia disekitarnya terserap dalam sebuah slow-motion  film The Matrix. Tidak pernah sebelumnya aku menemukan seseorang berjalan selambat nenek itu.  
Maafin aku ya nek....

Seakan ada beban yang begitu berat harus dipikulnya tiap kali melangkah, satu per satu kakinya bergerak perlahan. Tak ia biarkan kaki di belakang bergerak sebelum ia yakin kaki yang di depan telah menapak mantap menahan tubuh ringkihnya. Dua kemungkinan, pikirku. Jika bukan beban yang ia gendong terlalu berat, maka tubuh rentanya yang begitu lemah untuk diajak bepergian. 

Sambil terus memperhatikan sang nenek yang keluar dari arah pemukiman warga, aku masih terus berbincang dengan adik di sampingku. Nampaknya ia tahu aku tertarik dengan kemunculan si nenek. Adik itu justru acuh tak acuh seakan hal itu menjadi pandangan yang ia lihat sehari-hari. Memang saat itu aku berada di lingkungan Jakarta yang tidak segemerlap tayangan sinetron atau sampul majalah turisme Kementerian Pariwisata. Ketika itu aku berada di lingkungan marginal ibukota. 

Pikiranku mulai melayang kemana-mana. Mungkinkah ia tinggal sebatang kara? Apakah suami yang mungkin berusia lebih tua darinya telah meninggal dunia dan meninggalkannya seorang diri? Apakah ia tidak punya sanak saudara? Anak misalnya? Pun jika ada, apakah anak-anaknya saling lempar tanggung jawab untuk mengurusnya? Mungkinkah karena tidak ingin merepotkan nenek memilih hidup sendiri? Apakah bungkusan di punggungnya adalah jamu racikan atau gorengan pisang yang menjadi menumpukan hidup? Ah, aku tidak tahu.

Hampir lima menit berlalu, belum satu meter pun nenek itu lalui. Kau mungkin bertanya-tanya apa yang kemudian kulakukan. Apakah aku hanya memperhatikan saja tanpa berusaha melakukan sesuatu? Bukankah lebih baik membantu daripada sekedar melihatnya dari ujung mata? Apalagi jika sempat-sempatnya aku mengambil foto dan malah tidak memapahnya. Jika kau pembaca yang berpikiran positif, mungkin kau menyangka tentu saja aku tergerak membantu. Bila kau pembaca yang kritis, kau mungkin tidak percaya begitu saja dan masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya kulakukan? 

Senin, 26 Juli 2010

Kemacetan yang Inspiratif


Bagi sebagian orang, kuliah pada hari Jum’at sore adalah kutukan, apalagi jika tempat kuliah itu berada di wilayah pusat kemacetan kota Jakarta. “Kutukan” itulah yang sedang aku jalani sekarang. Pada semester pendek ini aku mengambil mata kuliah anti korupsi. Sebuah mata kuliah aneh yang menjadi mata kuliah wajib bagi mahasiswa Universitas Paramadina.

Sebenarnya hal ini tidak akan terjadi seandainya aku tidak telat mengisi Kartu Rencana Studi (KRS) untuk semester pendek ini. Namun apalah daya, ketika aku akan mengisi, hanya tersisa satu kelas mata kuliah anti korupsi yang masih bisa diisi. Itupun dari sekian puluh mahasiswa yang dapat ditampung, hanya tersisa satu kursi. Akhirnya tanpa pikir lagi aku meng-click kelas tersebut.

Sementara lupakan dulu soal pengisian KRS yang banyak memakan korban (masalah kuceritakan nanti). Seluruh mata kuliah anti korupsi berlokasi di kampus II Universitas Paramadina, Energy Tower lantai 22, kawasan bisnis SCBD. Lokasinya cukup strategis karena ia diapit oleh jalan Sudirman, Senayan, dan Pacific Place. Sebagai sentra bisnis, bisa dibayangkan betapa sibuknya jalan-jalan ini oleh lalu lalang kendaraan. Apalagi jika hari akhir kerja menjelang weekend.

Banyak teman-temanku berkata bahwa kuliah sore, di kampus II, hari jum’at, adalah neraka. FYI, kuliah anti korupsi adalah kuliah 2 SKS yang dimulai dari jam 15.30 dan berakhir pada jam 17.10 WIB. Namun tidak jarang waktu kuliah melampaui batas waktu yang biasanya. Terkadang lebih sepuluh menit, atau bahkan lima belas menit. Kemacetan luar biasa selalu membayangi kawasan ini, apalagi pada jam-jam itu. Tidak hanya kendaraan, antrian panjang para penumpang juga ikut menyumbang kegelisahan hari Jum’at di SCBD. Menyangkut terminologi SCBD, ternyata banyak juga teman-temanku yang tidak tahu kepanjangannya. SCBD adalah singkatan dari Sudirman Central Business District. Itulah yang kuketahui melalui google. Hehehe…, akupun tidak tahu.


Namun belakangan aku menyadari bahwa kuliah hari Jum’at sore di kawasan SCBD tidaklah terlalu mengerikan, meskipun harus kuakui bahwa untuk pulang menuju Mampang Prapatan aku harus menghabiskan waktu hampir 2 jam di jalan, bahkan lebih. Meskipun hari ini Kompas merilis data bahwa dari total waktu perjalanan di Jakarta hanya 40% yang dapat digunakan bergerak, akhir-akhir ini aku berusaha untuk menjadikannya rekreasi model baru. Dengan sedikit mengubah perspektif, aku banyak belajar dalam perjalananku dari SCBD menuju Mampang.

Pagi hari ketika akan berangkat ke kantor ataupun memulai aktivitas, setiap orang akan berdandan dengan rapi dan mungkin menghabiskan waktu cukup lama mematut-matutkan diri di depan kaca. Mencari baju yang sesuai, matching sana-sini, menyisir rambut, menyemir sepatu, menyetrika baju, sampai memilih wangi parfum yang sesuai dengan suasana hati. Bahkan orang (sorry to say) paling jelek sekalipun akan menjadi cantik dan ganteng dalam balutan make-up dan riasan tubuh.

Namun setelah beraktvitas kurang lebih delapan jam dalam sehari dan lima hari dalam seminggu, apakah manusia-manusia pekerja ini masih dalam kondisi yang sama? Apakah mereka masih fresh seperti saat pertama berangkat? Apakah riasan dan make-up masih menor seperti sebelumnya? Apakah tatanan rambut masih berdiri stylish? Itulah realitas yang berusaha aku temukan jawabannya dalam ruwetnya kemacetan kota Jakarta menjelang akhir pekan!

Untuk menuju Mampang, ada beberapa alternatif pilihan transportasi yang dapat digunakan. Pertama, bus transjakarta. Dari kampus II Paramadina, aku hanya tinggal masuk ke halte busway Gelora Bung Karno yang berada tidak jauh dari sana. Namun karena rute busway yang berputar-putar, maka resiko menggunakan busway pada jam-jam pulang kantor dan di hari Jum’at adalah antriannya yang super-duper panjang!

Kedua, adalah terus melanjutkan perjalanan ke terminal Blok M lalu menyambungnya dengan bus metro mini 75 ataupun Kopaja 57. Dua bus kota ini akan melalui jalan Senopati yang hingga kawasan Tendean juga dijubeli dengan berbagai kendaraan roda empat ataupun dua. Alternatif terakhir, menyeberang melalui jembatan busway dan naik bus Kopaja 66 dari arah seberang Graha Energy (Graha Niaga). Namun bus ini hanya akan mengantar hingga perempatan Kuningan, sehingga untuk menuju Mampang harus jalan kaki sebentar hingga ke depan Trans TV/ Pasar Mampang dan menyambungnya dengan angkot 42, Kopaja 57, atau metro mini 75 yang datang dari arah Blok M.

Bagi orang-orang yang tidak punya kendaraan sendiri, sebenarnya ada alternatif lain yang mungkin digunakan, yaitu taxi. Namun dengan kemacetan yang parah, aku kira sedikit dari kita yang akan menggunakan alternatif ini.

Jika bus transjakarta yang dipilih, maka aku harus transit dulu di halte busway Dukuh Atas. Disinilah puncak pertemuan dari berbagai jalur busway, terutama jalur koridor satu yang menghubungkan stasiun Kota Jakarta dengan terminal Blok M. Antrian panjang manusia akan menjadi pemandangan yang biasa. Disini kau akan melihat banyak realita unik mengenai orang-orang dan perilakunya, terutama ketika sedang mengantri dan berusaha mengatasi stress akibat macet.

Dalam perjalanan pulang dengan menggunakan busway, kau akan melihat banyak fakta. Disini kau akan melihat bagaimana make-up tidak lagi menjadi utama. Rambut shaggy yang cool akan terlihat lemas dan lepek. Garis-garis tegas kemeja yang disetrika telah kehilangan lekukan-lekukan indahnya. Pada kondisi inilah kau akan melihat manusia-manusia yang apa adanya. Pun disinilah jika kau ingin melihat kecantikan alami seorang wanita.

Ya, tentu saja. Cantik bukan dalam arti visual saja, namun inner beauty pun akan teruji disana. Kau akan lihat bagaimana seseorang yang punya kepribadian baik akan terus tersenyum kepada orang lain meskipun ia lelah bekerja seharian. Wajahnya masih memancarkan cahaya optimisme dan selalu melihat sisi positif dari sesuatu. Dilain sisi, tidak akan sulit bagimu untuk menemukan orang-orang dengan wajah cemberut dan alis yang selalu bertaut. Melirik orang lain dengan sinis dan berusaha eksklusif dalam kemacetan dan antrian.

Begitu pula dengan alternatif pilihan transportasi lain. Setiap medan punya tantangan dan fakta yang menarik. Tidak hanya soal antrian, perilaku pengendara roda dua juga akan menjadi media rekreasi yang memikat. Sejuta wajah Jakarta dapat kau temui pada sebuah petang di hari Jum’at.

Jakarta, 26 Juli 2010

(sumber gambar: foto.detik.com)

Senin, 31 Mei 2010

KOMPLiKASi Kelas 1

“Saat menulis, kesampingkanlah otak kiri.” Demikian ujar seseorang saat kami bertemu dalam workshop creative writing beberapa waktu lalu. Deskripsi otak kiri yang cenderung kuantitatif, banyak pertimbangan, mengedepankan logika dan bersifat matematis akan mengganggu seorang penulis untuk menuangkan segala ide dan gagasan dalam kepalanya. “Jangan pernah membaca karya yang sedang anda tulis sebelum karya tersebut tuntas ditulis!” Sugesti ini diucapkannya untuk membuang efek otak kiri karena akan mengkontaminasi sang penulis untuk berpikir tentang grammatical rules, plot, sudut pandang, dan hal-hal teknis lain yang dapat mengalihkan perhatian dari ide pokok dan gagasan tulisan. Meskipun sifatnya subjektif, banyak penulis – terutama pemula – menyetujui pernyataan tersebut.

Dalam menghasilkan sebuah karya kreatif, otak kiri selalu dianggap sebagai ganjalan yang harus disingkirkan terlebih dahulu. Tidak hanya dalam menulis, saat melukis, menggambar, ataupun mendisain, sang maestro akan lebih bebas berekspresi ketika tidak dihadapkan pada berbagai aturan yang mengikat. Mungkin itu pula alasan mengapa para seniman, penulis, sastrawan, pelukis, dan profesi-profesi sejenisnya lebih mengedepankan ekspresi daripada logika. Tampilan awut-awutan, rambut panjang, dan gaya eksentrik adalah abstraksi dominan dari kalangan ini.

“Maka jangan sekali-kali kau gunakan otak kirimu berlebihan, karena itu akan membuat kreatifitasmu terbelenggu dan mati!”

Otak kiri = logika = banyak pertimbangan = ribet = hitung-hitungan = matematika = pelit! Otak kiri tercitra layaknya prabu Dasamuka (Rahwana) dalam kisah Ramayana, bagai Fir’aun dalam balada Nabi Musa a.s., dan seperti Ares dalam mitologi Yunani. Ia adalah antogonis kreatifitas yang mengganggu. Maka janganlah kau mendekatinya selama kau ingin menjadi manusia kreatif.



***

“Eits…siapa bilang otak kiri tidak penting? Jangan kira akan ada arsitektur berseni tinggi jika kau tidak pernah mengenal matematika, mengenal hitung-hitungan, mengenal ribet, mengenal banyak pertimbangan, mengenal logika, dan mengenal otak kiri.”

Kreatif adalah jika kau mampu hidup dan berekspresi dalam berbagai keterbatasan. Maka, bukanlah kreatif jika kau berkarya tanpa batasan karena tidak ada resistensi yang kau alami. Berpikir kreatif adalah berpikir produktif dalam berbagai keadaan. Jangan kau menganggap dirimu pelaut hebat jika kau tidak pernah berlayar di samudera ganas. Jangan pula berpikir kau seorang maestro dunia jika untuk berkarya kau harus pergi ke ujung dunia dan menyepi untuk mengharap inspirasi.



Matematika pun memiliki seni dan kreatifitasnya sendiri. Dengan menggabungkan berbagai rumus presisi dan akurasi penghitungan kalkulus integral dan diferensial, logika bobot dan luas penampang, terlahirlah Sydney Opera House, Centrepoint Tower, Burj Dubai, Mezquita de Cordoba, Taipei 101, Taj Mahal, dan berbagai seni arsitektur indah lainnya. Bagaimana mungkin masterpieces itu dapat dibangun jika otak kiri ditiadakan dari manusia?

Tidak hanya arsitektur, perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan juga bergantung pada otak kiri. Tidak akan pernah ada kisah Apollo 11 yang berhasil membawa Neil Armstrong, Edwin Aldrin, dan Michael Collins mengunjungi bulan untuk pertama kalinya. Tidak akan ada pengamatan bintang jika Galileo Galilei tidak menciptakan teleskop refraktornya. Maka apalagi yang kau ragukan dari pentingnya otak kiri?



***

“Whus…tunggu dulu. Harus kau sadari, semua perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi selalu diawali dari mimpi. Ingat!”

Hanyalah mimpi yang membuat Wright bersaudara (Orville dan Wilbur) menciptakan Wright Flyer untuk menerbangkan manusia. Begitu pula penjelajahan luar angkasa. Hanyalah mimpi “menginjak” bulan yang menyebabkan manusia menciptkan Apollo 11. Satu hal yang harus kau perhatikan, mimpi sama sekali tidak berhubungan dengan otak kiri!

***

“Jangan salah…mimpi hanyalah omong kosong jika tidak ada otak kiri!”

Kau kira mimpimu akan terwujud jika kau tidak pernah berpikir untuk mewujudkannya? Berpikir adalah aktivitas otak kiri, karena otak kiri tidak bermimpi. Jika kau ingin hidup dalam mimpi, silahkan lupakan bahwa kau punya otak satu lagi. Mimpi yang tidak realistis akan menyebabkan manusia terjerumus dalam utopia yang lama kelamaan membuatnya depresi. Mimpi hanyalah bunga tidurmu dimalam hari. Bahkan, siang bolong pun kau masih sempat melukis mimpi dalam duniamu yang imaji.

***

“Lalu…so what?”

Sumber gambar;
Apollo 11: tizona.wordpress.com
Burj Dubai: empimuslion.wordpress.com

Rabu, 07 April 2010

LEBAY Phenomenon...


Lebay, adalah sebuah kata yang sering kita dengar dimana-mana. Tidak hanya diucapkan, kata ini juga sering ditulis dalam berbagai komentar dan testimoni berbagai kalangan, utamanya remaja dan ABG. Lebay tidak kalah populer daripada perceraian selebriti, perselingkungan public figure, life style para socialite, omong-kosong wakil rakyat, kemiskinan, hingga pidato kepresidenan. Ia seolah muncul begitu saja dan berhasil mencuri hati masyarakat. Sekolah, tempat main, hiruk pikuk rumah tangga, sampai lirik lagu didominasi oleh lebay.

Seperti halnya kata-kata gaul “capek deh”, “mene ketehe”, “secara”, “GeJe”, “brondong”,"alay", “duren”, dan seterusnya yang sempat populer beberapa waktu, popularitas lebay menanjak tajam dan menduduki tangga kata gaul teratas. Seluruh sendi kehidupan dirasuki bayang-bayang lebay. Ia menguntit, menyelinap, mengamati, dan siap menikam siapapun yang ingin menjadi bagian dari kata gaul. Apalagi di era sekarang, strata gaul meningkat jauh lebih tinggi daripada status Pak Kades, Bu Lurah, Om Camat, Tante Bupati, hingga Mbak Istri Ketiga Pejabat. Gaul menghirup habis lemah gemulai Mbakyu penjual jamu gendong bersampir dan mentransformasinya menjadi tante cantik rupawan dengan segudang mata pencaharian.

Kembali kedalam pembicaraan: Lebay! Apa dan siapa sebenarnya lebay? Hingga tulisan ini dibuat, Wikipedia belum menyediakan referensi darimana kata lebay berasal, siapa orang tuanya, dimana kota kelahirannya, dan mengapa ia harus ada. Namun sejauh ini, telah ada beberapa usaha yang dilakukan beberapa orang untuk mengidentifikasi asal usul lebay agar tidak seperti kebanyakan bayi yang ditinggal oleh orang tuanya didepan pintu panti asuhan.

Lebay menurut beberapa sumber berasal dari sebuah kata di pulau Sumatra, yaitu belebai yang artinya berlebihan. Ia digunakan untuk mendeskripsikan seseorang dan sesuatu yang berlebihan daripada yang semestinya. Over, begitulah banyak orang menyebutnya. Masih dalam konteks yang sama, sebagian orang lain menganggap lebay adalah plesetan dari kata lebih yang diucapkan dengan aksen ke-inggris-inggris-an sehingga harus dibaca lebay. Dengan demikian dua pendapat tersebut masih berada dalam satu lintasan yang sama, yaitu lintasan yang bermuara pada lebih/ berlebihan/ kelebihan. Meskipun berlebihan memiliki pengertian positif (karena melebihi apa seharusnya), namun lebay memiliki konotasi yang sebaliknya. Negatif dan unacceptable!

Studi empiris yang dapat dipantau dalam keseharian mengindikasikan bahwa perilaku lebay adalah sesuatu yang terlalu didramatisir. Dibuat demikian agar memberikan aspek dramatis dan menarik perhatian. Sepintas mirip dengan scenario dan script dalam penggarapan sinetron Indonesia kebanyakan. It’s fully dramatic!

Sesuatu yang terlalu didramatisir menyebabkan masyarakat enggan untuk memberikan apresiasi positif, meskipun sebagian lebih suka hal tersebut karena dapat memancing tangis penuh sedu-sedan dan reaksi emosional yang membangkitkan adrenalin untuk menghukum sang antagonis/ opposan. Hal ini biasanya dialami oleh ibu-ibu rumah tangga beserta pembantu yang sering menemaninya menikmati sensasi drama sinetron dan sejenisnya. Setidaknya itulah alasan mengapa lebay layak dilabelkan pada seseorang yang terlalu mendramatisir sebuah permasalahan.

Akan tetapi, pada saat-saat sekarang, lebay mengalami sedikit penyalahgunaan oleh orang-orang yang tidak tahu bagaimana seharunya menggunakan kata lebay dengan bijak. Lebay telah diselewengkan dari ia yang seharusnya. Ini adalah pengkhiatan terhadap lebay. Suatu ketika sebuah stasiun menayangkan profil seorang nenek-nenek yang berusaha hidup ditengah hiruk pikuk metropolitan dengan menjual sayuran bekas, penontonya bilang: lebay! Saat seorang anak kecil menceritakan alasan ia ikut audisi sebuah ajang pencarian bakat adalah untuk membantu biaya pengobatan ibunya yang sedang sakit, penonton bilang: lebay! Pun ketika seorang anak di daerah terpencil harus menempuh kiloan meter untuk mencapai sekolah, penonton masih bertahan pada kata yang sama: lebay!

Akupun setuju jika kisah heroik dan memprihatinkan diekploitasi sedemikian rupa demi kepentingan komersialisme, maka itu adalah sebuah kejahatan terhadap kemanusiaan. Seandai saja hal itulah yang aku temukan. Namun tidak. Lebay dalam kasus diatas hanya digunakan sebagai topeng dari kelemahan diri. Ketidakmampuan menerima keadaan bahwa mereka (yang berkoar-koar lebay) juga merasakan hal yang persis sama dengan tokoh “lebay” yang mereka teriaki. Sebuah tameng yang dibangun untuk menyembunyikan sisi kemanusian yang menjadi kodrat sebuah kehidupan. Melindungi kelemahan dan ketidakberdayaan yang pernah mereka alami dengan menumbalkan kata lebay!

(This article is not dedicated to be a part of lebay phenomenon)

(sumber gambar: http://www.google.co.id/imglanding?q=lebay&imgurl=http://kecowakmanja.blog.telkomspeedy.com/files/2009/01/lebay.jpg&imgrefurl=http://kecowakmanja.blog.telkomspeedy.com/page/2/&usg=__mZ3JzuIOX_zqe6nTuFm22xij13M=&h=273&w=585&sz=35&hl=id&itbs=1&tbnid=r6xf9j4xOQz2ZM:&tbnh=63&tbnw=135&prev=/images%3Fq%3Dlebay%26hl%3Did%26sa%3DG%26tbs%3Disch:1&sa=G&tbs=isch:1&start=0#tbnid=qtII9AYuw7NmuM&start=0)

LOVE 'n What I Think...


“aku hanya ingin bercinta,
dengan kamu sendiri,
ga perlu si ini, si itu,
mesti gini, harus gitu.”
(Jamrud)

Menikmati alunan indah syair Jamrud dan hentakan nada-nadanya mengantarkanku sejenak pada sebuah dunia yang hanya ada dalam imajinasiku. Dunia dimana cinta menjadi pesona yang menggiurkan. Sebuah candu yang menawan manusia dalam sangkar ketidakbedayaan. Apalah arti kehidupan singkat ini tanpa hadirnya cinta. Sejak Nabi Adam tercipta hingga entah kapan kuas kehidupan berhenti menggores kanvas usia, cinta adalah hal terindah yang mungkin pernah dimiliki manusia.

Cinta memiliki banyak turunan terminologi yang tak lagi asing didengar. Ia kontroversial. Mencerahkan bagi sebagian namun menghancurkan bagi sebagian yang lain. Paling tidak itulah jawaban dari orang-orang yang kutanyai tentang cinta. Indahnya dunia saat cinta bersambut rasa dan betapa busuknya ia saat menjadi alasan bagi seseorang untuk mengakhiri perjalanan hidupnya. Tapi tidak begitu bagiku. Cinta itu menggairahkan, hanya itu. Tak ada kontroversi, tak ada intimidasi, dan tak ada depresi. Ia selalu indah, bagai bunga dimusim semi dan butiran salju dimusim dingin. Sebuah keindahan yang absurd dan subjektif!

Dalam sudut ketertarikan antara pria dan wanita, universalitas cinta kadang terabaikan. Tidak salah jika itu yang ingin Jamrud katakan. Aku cinta kamu, kamu cinta aku. Aku milik kamu, dan kamu hanya milik aku. Possesif! Dunia berkata bahwa ia sering dilupakan oleh pasangan yang dimabuk cinta. Seakan tak ada makhluk lain yang perlu dilirik selain kekasih pujaan jiwa. Hanya dia yang terbayang dalam dua puluh empat jam perputaran waktu. Seandainya mampu, kuyakin para pujangga akan membuat pusara indah bagi masa. Namun benarkah kamu hanya bercinta dengan dia sendiri?

Cinta adalah ekspresi kejiwaan yang implementasinya membutuhkan objek, bahkan cinta pada diri sendiri. Mencintai seseorang bisa saja diartikan sempit sebagai bentuk kecintaan pada wajahnya, perilakunya, kebaikannya, atau tubuhnya. Lebih spesifik cinta pada hidungnya yang mancung, lesung pipitnya yang menggoda, gerai hitam rambut panjangnya, wangi parfumnya, indah warna matanya, sintal tubuhnya, kasar tutur katanya, dan rentetan daftar yang masih panjang mengantri.

Mencintai seseorang secara tidak langsung menyatakan bahwa kita juga mencintai segala kelebihan dan kekurangan pasangan, meskipun jika seorang pencinta hanya mau mencintai kelebihan dan tidak mau mencintai kekurangannya masih bisa dianggap wajar. Ketika menikahi seseorang, maka sebenarnya kita tidak hanya menikahi dirinya, namun juga menikahi teman-temannya, menikahi keluarganya, paman-bibinya, kakak-adiknya, ayah-ibunya, menikahi kekurangannya, dan menikahi mantan-mantan kekasihnya. Maka siap-siaplah ber”poligami….”

(sumber gambar:http://www.google.co.id/imglanding?q=love&imgurl=http://ohdediku.files.wordpress.com/2009/07/jump-for-love.jpg&imgrefurl=http://ohdediku.wordpress.com/2009/07/09/punk-rock-jalanan-ceritamu-ceritaku-cerita-kita-bersama/jump-for-love/&h=429&w=600&sz=26&tbnid=uiPED3cqDwMHBM:&tbnh=97&tbnw=135&prev=/images%3Fq%3Dlove&hl=id&usg=__tO8tte2KZKDUHDThTH9IetM-hx0=&ei=uau8S6iGO4i7rAfT7Ni5Bw&sa=X&oi=image_result&resnum=1&ct=image&ved=0CAYQ9QEwAA&start=0#tbnid=uiPED3cqDwMHBM&start=0)

Popular