Emerald City

Emerald City
An Evening in Emerald City (source: personal document)

Jumat, 12 Juni 2015

Shalat Jumat Pertama Di Seattle


Sumber Ilustrasi: http://www.jonstolpe.com/category/prayer
Hari ini (12/6/2015) adalah Jumat pertama sejak kedatanganku di Seattle. Bingung juga karena tidak tahu akan Shalat Jumat di mana. Sempat beberapa kali browsing dan mencari tempat shalat lewat internet, namun belum tahu rute-rute yang harus dilalui. Akhirnya, aku coba bertanya pada anak-anak Indonesia yang kukenal. Sayangnya, mereka tidak begitu tahu karena biasanya shalat ke gereja yang jumlahnya cukup banyak di sini.

Aku pun bertanya pada program director saat bertemu dengannya kemarin. Aku datang untuk berkunjung karena selama ini hanya berkomunikasi lewat email. Sekalian, aku juga minta surat keterangan kedatangan darinya untuk dikirimkan ke LPDP. 

Perempuan berperawakan tinggi bernama Alix itu mengatakan sempat ditanya pertanyaan yang sama beberapa tahun lalu oleh mahasiswa. Ia mengatakan akan melihat kembali file-filenya dan akan mengirimkan informasinya melalui email. Benar saja, sorenya aku menerima email dari Alix kalau ada dua masjid yang biasanya didatangi warga muslim di sini. Tempat pertama adalah Idris Mosque dan yang kedua adalah Islamic House. Ternyata, tempat yang terakhir itu masih cukup dekat dengan Nordheim Court, apartemen yang kutinggali.

Sebelum menerima email dari Alix, aku juga sempat bertanya pada seseorang yang kutemui di HUB (Husky Union Building). Aku berani bertanya karena ia adalah seorang perempuan berjilbab. Ia pasti punya informasi yang kubutuhkan. 

Perempuan muda bernama Hedaya Saadi itu adalah keturunan timur tengah (aku lupa negaranya) dan telah lama tinggal di sini. Ia berkuliah di University of Washington - Bothel dan hanya berkunjung saja ke UW Seattle. Melihat aku mendekat, ia segera melepas headset yang menyumbat telinganya. Sebenarnya, kami sempat berpapasan di koridor, namun hanya saling bertatapan muka.

Hedaya tidak begitu tahu tentang masjid terdekat untuk shalat Jumat. Namun, seingatnya ada masjid yang biasa didatangi orang-orang. Ia berjanji akan mengirimkan email tentang lokasinya. Hedaya juga memberi tahuku bahwa di lantai paling bawah HUB ada tempat yang bisa digunakan untuk shalat. Selain itu, juga ada komunitas muslim yang menurutnya sangat ramah dan pasti membantu saudara muslim pendatang baru. 

Hedaya memiliki wajah rupawan khas Timur Tengah: mata berbinar dan hidung mancung. Dalam perjalanan pulang ke Nordheim, ponselku memberi notifikasi pesan masuk. Ternyata ada email dari Hedaya. Isinya adalah koordinat Islamic House, tempat yang juga direkomendasikan Alix. Sepertinya, tempat ini yang paling mungkin kudatangi. 

Berbekal hasil googling, Jumat siang sekitar jam 12 aku keluar dari apartemen dan mencari lokasi Islamic House. Selanjutnya hanya berbekal insting karena ponselku belum berlangganan paket data. Waktu shalat Dhuhur di Seattle adalah sekitar jam 13.09. Kalaupun nyasar, mestinya tak lebih dari sejam karena jarak Nordheim dan masjid itu hanya 15-20 menit jalan kaki. Begitu Google memberitahuku. 

Ternyata eh ternyata, butuh waktu jauh lebih lama dari perkiraan untuk bisa menemukan tempat itu. Masjid atau islamic center di AS memang tidak semuanya memiliki kubah. Selain itu, pengeras suara untuk adzan tidak boleh sampai keluar ruangan. Tanda atau plang informasi pun juga sudah untung bila ada. 

Setengah jam pertama terlewat, aku masih muter-muter tak jelas. Jalanan yang semakin menanjak membuat nafasku makin berat. Tak apa, sekalian saja latihan pernafasan, hehe. Padahal, hanya mencari alasan menghibur diri. 

Waktu terus berjalan, begitu juga langkah kakiku yang tak kunjung berhenti. Namun, masjid dengan alamat 4626 21st Pl NE, Seattle, belum bisa kutemui. Dalam hati, aku mengutuki diri yang tak bisa menemukan tempat dengan alamat yang sudah benar-benar jelas! Bila kau pernah bermain bola, perasaanku seperti pemain bintang yang gagal mencetak gol meski di belakang sudah tak ada pemain sementara kiper lawan tiba-tiba patah kaki. Gawang kosong, tapi tak bisa melesakkan gol!


Sepertinya, aku hanya berputar-putar tak jelas karena plang jalan yang kulewati sudah terang-terang menunjukkan angka 21st. Jam di ponselku sudah menunjukkan pukul 12.50. Wah, makin mepet. Aku pun bertanya pada seorang perempuan yang kebetulan berpapasan. Rambutnya pirang dan sepertinya sedang hamil karena perutnya membuncit (hati-hati, asumsi ini bisa jadi masalah. Apalagi kalau disampaikan di depan umum dan ternyata tidak begitu). 

Ia mengatakan tidak tahu alamat yang kutunjukkan, tapi sepanjang jalan itu adalah 21st Pl NE. Tak banyak membantu. Aku kembali mencari-cari. Anehnya, beberapa kali aku sempat melintasi rumah-rumah yang berantakan dan muda-mudi yang bergerombol. Sesekali, suara tawa dan cekikikan terdengar dari arah mereka. Botol bir berserakan dan musik berdentum keras dari dalam mobil yang terparkir hampir tak beraturan. 


Di depan rumah-rumah itu, terpampang beberapa huruf romawi. Tanda itu langsung mengingatkanku pada film-film Hollywood. Tak salah lagi, ini pasti basecamp kelompok-kelompok fraternity dan sorority. Aku pun berlalu saja dan ternyata jam sudah menunjukkan angka 13.00. Aku sudah hampir putus asa. Sepertinya, aku akan melewatkan hari Jumat pertama di Seattle tanpa shalat Jumat.

Sambil melirik print screen dari Google Maps, ternyata ponselku menangkap sinyal internet. Artinya, posisiku berdiri masih dalam radius wilayah kampus sehingga bisa mengakses internet. (Pelajaran penting! Bila sedang berada di tanah asing, akses internet perlu jadi prioritas). Aku segera membuka aplikasi Google Maps dan melihat history. Ia langsung menunjukkan lokasi Islamic House yang ternyata hanya berjarak 10 meter dari posisiku berdiri. Aku pun beranjak mengikuti panduan aplikasi. Saat sampai, aku langsung menyadari bangunan itu telah aku lewati beberapa kali. 

Dari luar, Islamic House itu seperti rumah biasa saja. Bangunannya dicat cokelat seperti rumah kebanyakan dan terdapat pagar besi hitam di sekelilingnya. Aku berusaha mencari pintu masuk. Satu-satunya jalan yang kutemukan ternyata digembok. Untunglah, ada seseorang yang baru saja memarkir mobil di depanku. 

Dari wajahnya, aku berasumsi ia adalah warga keturunan Timur Tengah sehingga ada kemungkinan ia juga seorang muslim. Melihatku yang sedang mencari jalan masuk, tanpa ditanya ia mengatakan aku harus berputar karena jalan masuknya ada di sisi sebelah. Aku bisa mengikutinya karena tujuan kami sama.

Sesampainya di dalam, aku hanya menemukan segelintir orang. Dalam hati aku bertanya-tanya apakah jemaah di sini akan sampai empat puluh orang. Aku duduk menunggu setelah mengambil air wudlu di sisi belakang. Jam 13.09 telah terlewat, namun adzan belum berkumandang. Satu-dua orang nampak masuk ke ruangan dan langsung duduk bersandar. Aku kembali bertanya-tanya, mungkinkah shalat akan dimulai setelah banyak orang? Ataukah aplikasi penunjuk waktu shalatku yang tidak terlalu akurat?

Akhirnya, sekitar jam 13.30 khutbah Jumat dimulai. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris. Orang-orang pun mulai berdatangan. Dari perawakannya, mereka terdiri dari berbagai suku bangsa. Ada Afrika, Timur Tengah, Asia, dan bahkan tampang-tampang bule. Uniknya, di deretan depan aku melihat sosok seseorang yang memakai baju batik. Tak salah lagi, Ia pasti orang Indonesia. Sekilas ia mengingatkanku pada tradisi hari Jumat di Jakarta. Banyak kantor yang menjadikan hari Jumat sebagai hari batik bagi karyawan-karyawannya. Tapi, tak mungkin ia karyawan kantor di Jakarta yang hanya numpang shalat di Seattle.


Di antara orang-orang yang baru datang, pandanganku terantuk pada seorang anak muda yang mengeluarkan sarung dari dalam tasnya. Seingatku, hanya orang Indonesia yang punya kebiasaan menggunakan sarung saat shalat. Orang Malaysia mungkin juga begitu, tapi tidak dengan sarung kotak-kotak yang hanya sekali melihatnya akan membuatmu langsung teringat rumah. Hampir pasti orang Indonesia! Beberapa orang juga terlihat berperawakan Indonesia, namun mereka duduk cukup jauh dari posisiku.

Akhirnya, shalat Jumat pun dimulai sekitar jam 13.54. Dalam hati aku berniat selepas shalat akan menyapa mereka. Beberapa saat setelah imam mengucap salam dan orang-orang mulai bubar, aku langsung keluar ruangan. Ternyata, aku justru tak bisa bertemu dengan satu orang pun di antara mereka. Aku khawatir mereka harus bergegas kembali ke kantor atau ke kampus. Mungkin belum berjodoh untuk bisa bercengkerama dengan orang-orang setanah air. Tapi, beberapa hari berikutnya aku bisa bertemu kembali dengan mereka dan tahu siapa saja orang Indonesia yang ada di Seattle dalam sebuah acara.

3 komentar:

  1. Assalamu 'alaikum wr.wb.
    Afwan, Ustad, kami dari panitia Warkat Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, memohon kesediaan antum untuk mengisi tulisan di warkat rubrik nurani pesantren. Rubrik ini biasanya diisi oleh alumni-alumni yang sudah (bisa dikatakan sukses) di luar, entah di bidang akademik, ekonomi, agama, politik dan sebagainya.

    BalasHapus
  2. Oya, Ustad. Saya Mohammad Rifai, yang dulu (2015 awal) pernah minta tulisan antum untuk dimasukkan di rubrik catatan guru Buletin Aliyah (BA). Dulu saya sms antum tentang itu, kemudian antum memberikan alamat blog antum dan menyarankan saya untuk memilih salah satu tulisan yang ada di blog ini. Dulu saya ambil yang berjudul Gagal Berjumpa Cleopatra. Sekarang, BA juga akan terbit untuk edisi yang ke 59, untuk catatan guru, boleh tidak saya mengambil tulisan antum sekali lagi yang ada di blog ini? Kebetulan catatan guru edisi ini belum ada. Rencananya kami mau minta ke kyai Ghozi, cuman beliau skrg lagi sibuk desertasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf belakangan ini saya belum sempat buka blog. Silakan saja.

      Hapus

Popular